Fikih Ramadhan (6), Membaca Quran dan Duduk di Masjid Hingga Terbit Matahari

oleh
fikih ramadhan membaca quran

Amalan berikutnya yang dianjurkan di bulan Ramadhān ini adalah:

(4) Banyak membaca Al Qurān

Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah banyak membaca Al Qurān, karena bulan ini adalah bulan istimewa. Di bulan ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan ayat pertama dari Al Qurān. Di bulan ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan Al Qurān ke langit dunia secara utuh, baru menurunkannya secara berangsur-angsur menurut kejadian. Ayat pertama turun adalah di bulan Ramadhān.

ِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ *

“Sesungguhnya kami turunkan Al Qurān ini pada malam Lailatul Qadr.” (QS Al Qadr: 1-3)

Lailatul Qadr hanya ada pada bulan Ramadhān dan terjadi di bulan Ramadhān.

Ini merupakan perkara yang qath’i bahwa Al Qurān itu turun pada bulan Ramadhān, hanya saja bukan pada tanggal 17 Ramadhān. Tidak ada tarikh yang menyebutkan tanggal itu sebagai tanggal turun pertama Al Qurān.

Bulan ini disebut juga sebagai Syahrul Qurān (bulan Al Qurān) maka perbanyaklah membaca Al Qurān. Apalagi bagi yang sudah hapal Al Qurān untuk mengulang-ulangnya atau menambah hapalan. Dan Al Qurān kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah oleh kalian Al Qurān ini (dengan banyak membacanya), karena demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, ia lebih cepat hilangnya daripada unta dari tambatannya.” (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, lafadz milik Muslim nomor  hadīts 791)

Al Qurān lebih liar daripada unta yang lepas dari ikatannya, bila tidak diulang-ulang dia akan lari. Maka jadikanlah bulan Ramadhān untuk mengembalikan “unta” kita yang lepas.

Mungkin 11 bulan banyak hapalan kita yang lepas, “unta” kita lepas maka cari kembali “unta” itu (ikat kembali “unta” itu) yaitu dengan cara mengulang-ulang kembali Al Qurān. Karena bila tidak mengulang-ulang Al Qurān hapalan kita akan hilang. Apalagi yang sudah  lanjut usia di mana fungsi akal semakin lemah banyak hal-hal yang hilang dari kita. Maka dengan mengulang-ulangnya mudah-mudahan kita dapat menpertahankan hapalan-hapalan Al Qurān kita atau menambahnya.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam selalu mengulang-ulang Al Qurān di bulan Ramadhān, dituturkan oleh’Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (صحيح البخاري)

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang dermawan dan kedermawanan beliau akan bertambah pada bulan Ramadhān. Sebab Jibrīl mendatangi beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan hingga ia berbaring, sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memperdengarkan bacaan Al Qurān. Maka di saat Jibril menemuinya, pada saat itu pulalah beliau menjadi orang yang lebih cepat berbuat kebaikannya, bahkan melebihi angin yang berhembus.” (Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 4631 versi Fathul Bari nomor 4997)

Jadi malāikat Jibrīl datang kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di bulan Ramadhān untuk mengulang-ulang Al Qurān.

Nabi mengulang-ulang Al Qurān padahal kepada beliaulah Al Qurān itu diturunkan, apalagi kita.

Jadi kalau kita lihat keberhasilan orang-orang menghapal Al Qurān jangan dilihat berhasilnya tapi lihat prosesnya. Bagaimana dia menghapalnya, lebih-lebih lagi bagaimana dia mempertahankan hapalan itu.

Sekali lagi ikhwāniy fīdīn, jadilah kita orang yang cinta kepada Al Qurān dengan banyak mengulang-ulangi Al Qurān pada bulan Ramadhān. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

“Jiwa/hati yang tidak ada di dalamnya sedikitpun dari hapalan Al Qurān seperti rumah yang rusak.” (Hadīts Riwayat At Tirmidzi 2913)

Rumah yang rusak itu rumah yang tidak bisa dihuni.

Di antara amalan lain yang dianjurkan pada bulan Ramadhān, adalah:

(5) Duduk di dalam masjid hingga terbit matahari dan mengerjakan shalāt Dhuha.

Ini salah satu amalan yang mungkin dapat kita lakukan di bulan Ramadhān, karena mungkin di bulan Ramadhān kita banyak libur dari tugas-tugas kita. Kebiasaan ini mungkin susah kita lakukan di luar Ramadhān karena kesibukan kita, namum di dalam bulan Ramadhān kita dapat mengamalkan amalan ini. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan di dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh ‘Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa mengerjakan shalāt fajar berjama’ah di masjid kemudian duduk berdzikir mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla hingga matahari terbit, lalu shalāt dua raka’at (shalāt Israq/shalāt Shuruq/shalāt Dhuha) maka seakan-akan dia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna, sempurna dan sempurna.” (Hadīts Riwayat Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir nomor 7741 dan Tirmidzi nomor 586)

Ini mungkin amalan yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhān karena biasanya di bulan Ramadhān kita tidak banyak kesibukan. Sebagian orang begitu selesai shalāt Shubuh, yang dilakukan yang terpikir adalah tidur lagi. Padahal tidur pagi yang pertama adalah makruh, yang kedua mudharat bagi kesehatan, yang ketiga kita kehilangan berkah pada waktu Nabi mendo’akan umatnya.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Yā Allāh, berkahilah umatku di pagi hari.” (Hadīts Riwayat Abū Dāwūd nomor 2606)

Mudah-mudahan di bulan Ramadhān kalau kita mengamalkan amalan ini kita terhindar dari kebiasaan buruk yaitu tidur pagi.

Link Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AI-FiqihRamadhan-06
Sumber: https://youtu.be/KsGQADMs50k

Tentang Penulis: Abu Ihsan Al-Maidany

Gambar Gravatar
Abu Ihsan Al-Maidany, MA, Pengisi Tetap Radio Rodja dan Rodja TV , Penulis Buku dan Penerjemah Buku-Buku Islam

One thought on “Fikih Ramadhan (6), Membaca Quran dan Duduk di Masjid Hingga Terbit Matahari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

62 − 55 =