Jangan Salah Mendidik Anak, Dalil Alquran dan Sunnah Mendidik Anak

Seorang anak adalah belahan jiwa bagi sepasang ayah dan ibu. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka berdua dan kekayaan yang tak ternilai harganya. Maka, ayah-ibu Muslim jangan sampai salah mendidik anak-anaknya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ “. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه – {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا} الآيَةَ.

“Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah engkau lihat hewan itu terputus telinganya?

Kemudian Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata membawakan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

( فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا )

(Tetaplah hendaknya pada) fitrah Allāh, fitrah yang Allāh telah ciptakan manusia pada fitrah itu. (QS Ar Rum: 30)

(Hadits riwayat Bukhari (Fathul Bari) III/219, nomor 1358 & 1359 dan Shahih Muslim bi Syarhi An Nawawi, Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha, Dar Al Ma’rifah XVI/423, nomor 6697)

Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat, tetapi kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya, putus karena dipotong oleh manusia.

Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah, tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.

(Perhatikan penjelasan Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari III/250 dengan bahasa bebas)

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa pada asalnya, manusia berada pada fitrahnya. Fitrah yang dimaksud di sini adalah Islam. (Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari III/248-249).

Namun, orang tua yang yahudi, nashrani atau majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi yahudi, nashrani atau majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang Muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi yahudi, nashrani atau majusi atau minimal berkarakter seperti yahudi, nashrani atau majusi.

Terutama jika keislaman orang tuanya lemah, tidak memiliki kepribadian sebagai Muslim yang jelas. Saat itulah keadaan orang tua yang demikian akan berpengaruh besar bagi perkembangan negatif fitrah anak-anaknya. Karena orang tua yang demikian tidak pernah peduli terhadap pendidikan Islam anak-anaknya.

Jangankan berpikir tentang pendidikan ke Islaman anaknya, untuk berpikir tentang ke Islaman dirinya sendiripun tidak peduli. Orang yang demikian, yang dipikirkan hanya sukses duniawi, tidak lebih.

Maka, tidak heran jika mereka menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada orang atau lembaga yang cita-cita tertingginya adalah sukses duniawi. Bukan membentuk anak shalih atau shalihah yang bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan berpikir tentang sukses akhirat.

Jadi, membentuk seorang anak menjadi nashrani tidak menuntut orang tuanya harus nashrani. Tetapi orang tua yang Muslim, namun tidak memiliki kepribadian Islam atau mungkin hanya Muslim secara geografis, tidak memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan Islam yang benar kepada anaknya, juga sangat berperan besar mengubah fitrah anak.

Hanya Muslim sejati sajalah yang sangat peduli pada pendidikan Islam anaknya.

(Bisa disimak penjelasan Syaikh Al Bāni rahimahullāh, lihat Āra’ Al Imam Al Bāni At Tarwiyah, karya Iyād Muhammad Asy Syāmi, Qirā’ah wa Taqdīm Ta’liq: Abu Ubaidah Masyhūr bin Hasan Al Salman, Dār Al Atsariyah, cet.I, 1430H/2009M halaman 279-280, dengan bahasa bebas).

Para orang tua Muslim perlu menyadari bahwa mereka memiliki andil sangat besar jika terjadi perubahan fitrah manusia dari fitrah Islam, iman dan tauhid menuju rusaknya fitrah menjadi yahudi, nashrani, majusi atau berkarakter seperti yahudi, nashrani atau majusi.

Jika itu terjadi, maka orang tua sangat bertanggung jawab dan ancamannya adalah siksa neraka yang dahsyat. Karena itu mestinya orang tua berhati-hati mengelola buah hatinya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak pernah mendurhakai Allāh terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS At Tahrim: 6)

Penjagaan terhadap diri dan keluarga dari siksa api neraka adalah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik kepada keluarga termasuk putra-putrinya.

Tafsir Ibnu Katsir ayat terkait

Maksudnya tentu pengajaran serta pendidikan yang membentuk anak dan keluarganya agar bertaqwa kepada Penciptanya.

Untuk semakin memotivasi semangat mendidik putra-putrinya dengan pendidikan yang baik berdasarkan Al Qurān dan Sunnah, hendaknya selalu segar dalam ingatan para orang tua akan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berikut:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah darinya amal perbuatannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfa’at atau anak shalih yang mendoakannya.” (Hadits riwayat Muslim bi Syarhi An Nawawi, nomor 4199)

Bukankah orang tua mendambakan anak shalih dan shalihah yang akan menjadi tabungan kebaikan baginya untuk masa depan akhirat? Anak shalih dan shalihah yang selalu mendoakannya meskipun orang tua sudah meninggal dunia?

Maka jangan salah memberikan pendidikan kepada belahan hati kita, supaya anak tetap terjaga fitrahnya.
Tentu harus diawali dengan niat ikhlas, bersemangat dan senantiasa memohon kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Wallāhu Waliyyu dzālik wal Qādir ‘alaih.
Sabtu, 30 Rabi’ul Akhir 1438 H / 28 Januari 2017 M
Materi Tematik | Jangan Salah Mendidik Anak
Sumber: Baituna-Majalah As-Sunnah edisi 06 tahun XIX, Dzulqa’dah 1436H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 × 1 =