Kaidah yang berkaitan dengan Kepemimpinan Islam (1)

oleh

Wajibnya membaiat pemimpin muslim yang sah dan ancaman pada orang yang tidak membaiatnya serta memperingatkan dari membatalkan baiat. Imam Hasan bin Ali Al-Barbahari berkata :

ومن ولي الخلافة بإجماع الناس عليه ورضاهم به فهو أمير المؤمنين لا يحل لأحد أن يبيت ليلة ولا يرى أن ليس عليه إمام برا كان أو فاجرا والحج والغزو مع الإمام ماض وصلاة الجمعة خلفهم ……هكذا قال أحمد ابن حنبل

“Dan barang siapa menduduki tampuk kepemimpinan dengan kesepakatan dan ridha kaum muslimin kepadanya, maka ia adalah amirul mukminin (penguasa kaum muslimin). Tidak halal bagi setiap orang untuk bermalam satu malampun sedang ia berpendapat ia tidak memiliki pemimpin, baik itu pemimpin yang baik maupun yang jahat.

Dan haji serta jihad harus dilakukan bersama penguasa, demikian pula boleh shalat jumat di belakang mereka … … demikianlah yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.”(Syarhus Sunnah : 77).

Diriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mendatangi Abdullah bin Muthi’ (orang yang mencabut baiat dari Yazid radhiyallahu ‘anhu). Abdullah bin Muthi’ lantas berkata :

“Siapkan bantal untuk Abu Abdirrahman ! (Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)”

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma lantas berkata ; “Sesungguhnya aku datang tidak untuk duduk, namun aku datang untuk memberitahumu sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau bersabda ;

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ لَيْسَ فِي رَقَبَتِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مَوْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa mencabut ketaatan kepada penguasa, maka ia akan menemui Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki hujjah. Dan barangsiapa mati dalam keadaan di lehernya tidak ada baiat maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah’.” (Syarah Shahih Muslim : 12/240).

Adalah Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma dan sejumlah orang dari Kalangan ahlul bait Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencabut baiat. Dan mereka tidak membaiat seorangpun setelah mereka membaiat Yazid sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata :

Mengabarkan kepadaku Ismail bin ‘Ulayyah, mengatakan kepadaku Shakhr bin Juwairiyyah dari Nafi’ ia berkata ;

“Ketika para manusia mencabut baiat mereka kepada Yazid (tidak mengakui kepemimpinan Yazid Karena ia penguasa yang jahat), Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma lantas mengumpulkan keluarganya, kemudian lantas bersyahadat dan berkata ;

“Amma ba’du ; sesungguhnya kita telah membaiat lelaki ini (Yazid) di atas baiat Allah dan Rasul-Nya. Dan aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; ‘Sesungguhnya penipu itu pada hari kiamat akan diberikan kepadanya bendera bertuliskan ; Orang ini telah menipu fulan.’

Dan sesungguhnya sebesar-besar penipuan adalah -kecuali syirik kepada Allah- ketika seorang lelaki membaiat seorang lelaki di atas baiat Allah dan Rasul-Nya. Kemudian ia membatalkan baiatnya.

Maka janganlah salah seorang dari kalian melepas baiat terhadap Yazid, dan janganlah salah satu dari kalian turut campur dalam urusan ini (pemberontakan) hingga menjadi pemisah antara aku dengan dia.” (Musnad Imam Ahmad 7/131-132).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentang riwayat ini :

و في هذا الحديث وجوب طاعة الإمام الذي انعقدت له البيعة والمنع من الخروج عليه ولو جار في حكمه وأنه لا ينخلع بالفسق

“Di dalam hadits ini terdapat keterangan akan wajibnya mentaati penguasa yang telah sah baiat terhadapnya. Serta haram memberontak kepadanya (baik dengan ucapan maupun senjata) meskipun ia berbuat jahat dalam pemerintahannya. Dan bahwasannya tidak batal kekuasaannya dengan ia berbuat fasik.” (Fathul Bari : 13/68).

Bagaimana Bentuk Baiat Kita Kepada Pimpimpin?

Proses bai’at itu dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang menjadi tokoh mereka atau ulama’ mereka, dan tidak harus dibai’at oleh seluruh rakyat. Kasus di Saudi misalnya cukuplah putra mahkota diangkat dan dibai’at menjadi raja oleh Mufti Saudi dan seluruh rakyat mengikuti bai’at tersebut dengan mentaatinya.

Demikian pula di Indonesia cukuplah beberapa orang yang menjadi tokoh mewakili kaum muslimin membai’at penguasa mengangkat mereka menjadi pemimpin negeri dan seluruh rakyat mengikuti bai’at tersebut.

Manakala ia mencabut ketaatan kepada penguasa, tidak meyakini adanya kewajiban untuk mentaati penguasa maka itu artinya ia telah membatalkan bai’atnya kepada penguasa. Imam Al-Marizi berkata :

يَكْفِي فِي بَيْعَةِ الإِمَامِ أَنْ يَقَع مِنْ أَهْل الْحَلِّ وَالْعَقْدِ وَلا يَجِب الاسْتِيعَاب, وَلا يَلْزَم كُلّ أَحَدٍ أَنْ يَحْضُرَ عِنْدَهُ وَيَضَع يَدَهُ فِي يَدِهِ , بَلْ يَكْفِي اِلْتِزَامُ طَاعَتِهِ وَالانْقِيَادُ لَهُ بِأَنْ لا يُخَالِفَهُ وَلا يَشُقَّ الْعَصَا عَلَيْهِ

“Sudah mencukupi di dalam urusan bai’at dengan dihadiri oleh sebagian ahlu al-halli wa al-aqdi (ulama’ atau tokoh yang menjadi wakil) dan bai’at tidak harus dilakukan oleh seluruh rakyat, serta tidak harus hadir semuanya ketika pembai’atan dengan berjabat tangan.

Bahkan bai’atnya rakyat cukup dengan setia mentaati penguasa serta tunduk untuk tidak menyelisihinya dan tidak memberontak kepadanya.” (Fathul Bari: 7/494).

Tentang Penulis: Abul Aswad

Gambar Gravatar
Ustadz Dwi Jarwanto atau Abul Aswad Al Bayaty, Alumni S1 Al-Madinah International University, Ketua Yayasan Hasan bin Ali Al-Islamiyyah Klaten. Khusus Membahas Kitab Mu’aamalatul Hukkam karya Syaikh Abdussalam Barjas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 1 =