Kajian Haji & Umrah (29), Beberapa Kesalahan pada Thawaf, Sa’i dan Wukuf

Ceramah.org – Para shahābat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan ketika melaksanakan amal ibadah haji yang merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya.

Kesalahan-kesalahan ketika thawāf

8. Melakukan thawāf dipimpin oleh satu orang

Melakukan thawāf dipimpin oleh satu orang dan mengucapkan do’a secara bersama-sama dengan suara yang keras Ini menganggu orang lain ketika thawāf.

Kenapa? Karena di dalam thawāf kita berdo’a, berdzikir, bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berhaji dan berumrah bersama beberapa ribu shahābatnya dan tidak ada riwayatnya beliau memimpin berdo’a para shahābatnya ketika berthawāf.

Jadi yang paling benar adalah pemimpin jama’ah haji (baik itu pemimpin kloter, pemimpin grup, panitia haji pemimpin KBIH) dia mengajarkan do’a yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian dibaca sendiri-sendiri nantinya.

9. Shalāt dua raka’at setelah selesai thawāf dan harus dekat dengan maqām Ibrāhīm.

Kata-kata “harus” tolong diperhatikan, tidak mesti harus di dekat maqām Ibrāhīm, di mana saja di masjidil harām silahkan kita shalāt. Jangan sampai kita menganggu orang lain yang sedang thawāf.

10. Shalāt lebih dari dua raka’at setelah thawāf

Setelah thawāf apa yang kita kerjakan? Setelah thawāf Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakan shalāt di belakang maqām Ibrāhīm sebanyak dua raka’at.

Setelah itupun tidak berdo’a langsung menuju air zamzam (minum air zamzam), kemudian kembali lagi ke Hajar Aswad lalu langsung ke Shafā untuk mengerjakan sa’i.

Hendaklah kita mencukupkan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Para ulamā seperti Abdullāh bin Mas’ud para shahābat Nabi radhiyallāhu ‘anhum mengatakan:

لاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الاجْتِهَادِ فِي بِدْعَةٍ

“Amalan yang sederhana tetapi sesuai dengan sunnah lebih baik daripada terlalu berlebihan tetapi perbuatan bid’ah.”

Jadi diatas adalah kesalahan-kesalahan ketika thawāf.

Kesalahan-kesalahan ketika sa’i

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam setelah thawāf, kemudian shalāt dua raka’at lalu minum air zamzam lalu kembali ke hajar Aswad lalu beliau menuju tempat sa’i.

Pada saat sa’i beliau mengucapkan:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Kemudian mengucapakan:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

Setelah itu beliau melakukan takbir tiga kali, lalu kalimat tauhīd, lalu berdo’a. Dan beliau ulangi hingga 3 kali seperti itu.

Itu adalah pekerjaan di Shafā, lalu beliau berjalan dari Shafā menuju Marwah. Di tengah perjalanan beliau lari di antara dua lampu hijau dan ini disebut satu putaran.

Sa’i adalah perjalanan dimulai dari Shafā dan berakhir di Marwah sebanyak 7 putaran.

Kesalahan-kesalahannya adalah:

1. Mengucapkan “Allāhu Akbar” diatas bukit shafa & marwah

Jika naik ke atas bukit Shafā atau Marwah yang ada, sebagian orang kalau sudah naik ke atas bukit Shafā atau Marwah mengucapkan “Allāhu Akbar” mengangkat kedua tangannya 3 kali.

Ini keliru!

Cukup dia mengangkat kedua tangan mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)

Kemudian dia mengucapkan kalimat tauhīd

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Kemudian berdo’a.

Sebagian orang tidak sampai kepada do’a tersebut, biasanya hanya mengucapkan, “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar,” lalu berlari (karena ingin cepet).

Ini tidak benar ! Tanpa do’a tanpa kalimat tauhīd.

2. Ketika Sa’i selalu berlari

Padahal yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah berlari ketika dari lampu hijau pertama ke lampu hijau kedua.

3. Setiap kali naik, baik naik ke Shafā atau ke Marwah membaca إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Bacaan ini dibaca hanya satu kali pertama kali kita naik saja, adapun ketika kita sampai ke Shafā dan Marwah pada putaran-putaran sa’i tidak perlu.

⇒ Pertama kali kita naik ke bukit Shafā saja kita membacanya.

Kesalahan-kesalahan ketika wuqūf

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam wuqūf di Arafāh dan beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Saya telah berwuquf di sini (‘Arafah) dan ‘Arafah semuanya adalah tempat wuquf.” (HR Ahmad nomor 13918)

Ada sebagian orang yang tidak memperhatikan dia berada di dalam Arafāh kah atau di luar Arafāh.

Seperti yang di dalam masjid Namirah, bagian depan masjid Namirah kalau kita garis miring itu bukan merupakan bagian dari “Arafāh tetapi itu bagian dari luar ‘Arafāh.

Jangan sampai kita berwuqūf di sana. Ini adalah kesalah pertama ketika wuqūf di ‘Arafāh. Kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

Download Audio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

39 − 37 =