,

Menghindari Usaha dari Riba di Zaman Now!

oleh

Bagaimana kiat-kiat agar kita dapat meraih dan mendapatkan sebuah usaha yang tentunya memiliki hasil dengan cara yang halal, melihat begitu banyaknya transaksi dan tata cara riba yang tersebar di tempat kita.

Pertanyaanya ini luas sekali jawabanya. Yaitu, kiat-kiat agar usaha kita terhindar dari sesuatu yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sehingga mendatangkan keberkahan.

Mencari Rezeki Untuk Mencari Ridha Allah

Yakini bahwasanya kita dalam berusaha mencari rezeki ini adalah untuk mencari keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dalam rangka memenuhi hajjah kita, kebutuhan kita, dan orang-orang yang wajib kita nafkahi.

Agama islam menganjurkan kepada kaum laki-laki, kepada orang yang mampu berusaha agar mereka berusaha. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memuji orang-orang yang makan dari hasil jerih payah, dari hasil keringatnya.

“Wakaana daud yaquulu min amaliyadih” (adalah Daud ‘alaihissalam makan dari hasil jerih payah dan hasil tangannya sendiri)*.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya : إِنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Nabiyullah yang dipuji oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tersebut memakan dari hasil jerih payahnya sendiri.

Maka, kita dianjurkan untuk bekerja dan berusaha. Carilah ridho Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Karena yang kita cari ridho Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan usaha ini, maka seluruh ketentuan-ketentuan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam mencari rezeki ini, berusaha dan berbisnis ini haruslah kita patuhi.

Mengikuti Ketentuan & Syariat Allah

Bila Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengharamkan RIBA. Ternyata ini ada RIBAnya. Kita hentikan!!! Bila Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengharamkan GHARAR. Ternyata usaha kita ini mengandung unsur GHARAR. Hentikan dan cari solusi lain!!!

Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengharamkan sesuatu, melainkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan gantinya yang jauh lebih baik daripada yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan syariat ini tidak diturunkan untuk memberatkan kita tapi untuk memudahkan kita. Dan kunci yang paling penting dalam hal ini, hendaklah anda mengerti syariat Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam jual-beli ini, dalam transaksi ini, dalam bisnis ini.

Belajar Ilmu Jual Beli

Bila anda tidak mengerti, tidak sempat waktu mempelajarinya jangan lupakan bertanya pada ahli ilmu. Bila anda khawatir mungkin tidak dapat waktu yang cukup, cari dan minta sebagian thulabul ‘ilm, sebagian orang yang mengerti tentang syariat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, minta dia untuk berkonsultasi atau anda berkesepakatan dengan dia, agar dia memperhatikan akad-akad anda, seperti Badan Pengawas, begitu juga dibolehkan.

Dan ini dijelaskan bahwasanya para pedagang, para tujaar dimasa dahulu. mereka kemana-mana bila melakukan safar keluar kota, mereka selalu membawa thulabul ilm. Lalu mereka di kota besar, mereka bertemu dengan para ulama dan langsung menanyakan transaksi yang akan mereka lakukan ini.

Mereka melakukan perjalanan dan membawa thulabul ‘ilm yang dianggap nanti di perjalanan siapa tahu ada terjadi transaksi, atau dikota yang akan ditujunya, dia tidak mengenal para ulama disana, ada orang tempat merujuk, bertanya, maka

keberadaan orang-orang ini yang mengerti akan Dinullah Subhānahu wa Ta’āla dalam muamalat ini merupakan syarat penting untuk sebuah usaha menjadi diberkahi dan diridhoi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Paling Penting adalah Niat

Niatkan dalam jual beli anda tersebut, selain ridho Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang utama tadi. Ingin membantu kaum muslimin memenuhi kebutuhan mereka.

Ingin memudahkan kaum muslimin. Ingin memudahkan manusia, sehingga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memuji “Waqullu bai’in mabrur”** ketika ditanya apakah amalan yang paling baik? ”Setiap jual-beli yang mabrur”,

Jual beli yang baik, yang tidak menipu, yang tidak ada kecurangan disana. Karena seorang pedagang, dia membantu kaum muslimin, para konsumen, untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pedagang yang datang umpamanya, melihat sebuah bencana alam, musibah, banjir atau apa. Sengaja datang dia kesana, tujuannya jual-beli.

Kalau sekedar tujuannya dunia, mendapatkan keuntungan dia akan dapatkan disana. Tetapi apabila tujuannya ingin membantu orang-orang yang terkena musibah ini, dan mendapatkan keuntungan dunia, dia akan berpahala di sisi Allah dua, rezeki dia dapatkan, kemudian dia membantu orang-orang tersebut memenuhi kebutuhan mereka.

Kalau andai para pedagang tidak datang kesana, susah orang yang ditimpa musibah ini untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Maka, bila ada para pedagang yang datang kesana, membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka, walaupun dia mendapatkan keuntungan, tetap akan jual-beli, dan walaupun sedikit lebih mahal daripada barang pada saat normal, karena ini tidak normal, suatu hal yang rezeki diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam keadaan tidak normal ini.

Tetapi, tentu dia memiliki rasa iba, sedikit iba dengan orang-orang yang ditimpa musibah ini, sekalipun dia berusaha sesuai dengan harga yang lain, berimbang, menurunkan sedikit lebih baik, walaupun lebih mahal daripada pada saat normal.

Maka dengan rasa inilah, dan dengan tujuan ini, dan dengan cara mengerti syariat Allāh Subhānahu wa Ta’āla ini akan didapatkan In syaa Allahu ta’ala keberkahan dalam usaha-usaha tersebut.

Wabillahi Taufiq…
——————

*) Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

إِنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Sesungguhnya Nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri”. [HR Bukhari no. 1967 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

**) Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij, bahwa ia berkata: Seseorang bertanya: “Ya, Rasulullah, Usaha apakah yang paling baik?” Nabi menjawab:

عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ

”Usaha hasil jerih payahnya dan setiap jual beli yang mabrur (halal).” [HR Ahmad Nomor 16628]

Tentang Penulis: Erwandi Tarmizi

Gambar Gravatar
Dr. Erwandi Tarmizi, MA Lahir di Pekanbaru 30 September 1974, menyelesaikan pendidikan S3 jurusan Ushul fiqh, Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, 2006-2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + = 11