Zuhud Terhadap Apa Yang Dimiliki Manusia

oleh

Kita masih pada penjelasan hadits yang ke-6 bagian 3, yaitu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Hendaknya engkau zuhud terhadap apa yang dimiliki oleh manusia (tidak berharap dari mereka) maka niscaya mereka akan mencintaimu.”

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Terlalu banyak hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang memerintahkan kita untuk ISTI’FAF (tidak berharap pada orang lain) dan ISTIGHNA (tidak butuh kepada orang lain).

Dalam hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengajarkan do’a:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allāh, cukupkanlah aku dengan perkara-perkara yang halal sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu, ya Allāh, sehingga aku tidak butuh kepada orang lain.” (HR Turmudzi; dinilai sahih oleh Al Albāniy)

Pada asalnya, seorang berusaha untuk mengerjakan kegiatannya sendiri dan mencukupkan dirinya sendiri (tidak butuh kepada orang lain).

Karena seseorang yang membutuhkan (minta bantuan) kepada orang lain maka dia akan rendah di hadapan orang tersebut.

Berbeda dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semakin seorang butuh kepada Allāh, maka Allāh semakin meninggikan derajatnya, sebagaimana telah disampaikan hal ini.

Allāh berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُإِلَى اللَّهِ ۖ

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian butuh kepada Allāh.” (QS Fāthir: 15)

Seorang semakin mewujudkan al iftiqār (perasaan butuh kepada Allāh) maka dia semakin dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena Allāh suka kalau orang minta (berdo’a) kepada-Nya.

Berbeda dengan Banu Ādam (anak Ādam/manusia), jika ada yang minta kepadanya maka dia akan marah dan benci.

Ada perkataan indah dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang disampaikan dalam kitabnya Majmu’ Fatāwa:

 احتج إلى من شئت تكن أسيره، واستغنِ عمن شئت تكن نظيره

Butuhlah engkau kepada siapa yang engkau kehendaki niscaya engkau akan menjadi tawanannya, dan cukupkanlah engkau untuk tidak butuh kepada siapapun yang engkau kehendaki maka engkau akan menjadi seimbang/sama dengan dia.

Meskipun ada orang miskin bergaul dengan orang kaya, karena orang miskin ini tidak butuh dengan orang kaya maka orang kaya ini tidak bisa merendahkannya.

⇒ Artinya tidak bisa menjadikan tawanannya, kerena dia tidak merasa butuh kepada orang kaya tersebut.

Jadi, meskipun yang satu kaya dan satunya miskin, dimana Si Kaya adalah sahabat Si Miskin dan Si Miskin tidak butuh kepada Si Kaya, maka jadilah keduanya sama (setara).

Kemudian, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

 وأحسن إلى من شئت تكن أميره

Dan berbuat baiklah kepada siapapun yang engkau kehendaki, maka engkau akan menjadi amir (pemimpin)nya.”

Kenapa? Karena kalau kita berbuat baik kepada seseorang, bagaimanapun juga dia akan punya hutang budi kepada kita (sehingga) dia akan menghormati kita.

Sebagaimana perkataan seorang penyair:

أحسن إلى الناس تستعبد قلوبَهُم

Berbuat baiklah kepada orang lain maka engkau akan menundukkan hatinya.”

Yang kita bicarakan di sini (yang menjadi pokok bahasan) adalah tidak mengharap kepada orang lain agar kita tidak menjadi tawanannya.

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menyebutkan:

“Seseorang, semakin meminta kepada orang lain (semakin memerlukan orang lain) maka dia semakin rendah di hadapan orang tersebut.”

Dia kehendaki atau tidak maka pada hakekatnya demikian (yaitu), dia akan semakin rendah di hadapan orang lain tersebut karena dia butuh kepada orang lain tersebut.

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berusaha untuk tidak berharap kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Dia serahkan hatinya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla; dia minta kepada Allāh, maka Allāh yang akan menundukkan hati-hati orang tersebut untuk membantunya dan berbuat baik kepadanya.

Jadi, kalau ada yang berbuat baik kepada kita tidak kita tolak. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menolak hadiah dan bantuan orang lain.

Justru kalau kita menerima hadiah/bantuan dari orang lain tersebut maka orang tersebut akan senang.

Misalnya ada orang ingin dekat dengan kita dengan memberi hadiah, maka kita terima. Akan tetapi jangan sampai hati kita berharap diberi hadiah oleh orang itu, jangan! Ini masalah pengaturan hati.

Tetapi kita berharap hanya kepada Allāh maka Allāh yang akan mengatur hatinya untuk memberi bantuan/menolong kepada kita.

Dalam suatu riwayat disebutkan ada seorang bertanya:
“Siapakah pemimpin penduduk negeri Bashrah?”

Maka dikatakan:
“Hasan Al Bashri adalah pemimpin kota Bashrah.”

Ditanya lagi:
“Bagaimana dia bisa menjadi pemimpin bagi penduduk kota Bashrah?”

Maka dikatakan:
“Hasan Al Bashri, orang-orang butuh terhadap ilmunya tetapi dia sendiri tidak butuh dengan harta mereka.”

⇒ Dia tidak pernah minta kepada mereka.

Namun ada perkara yang perlu saya ingatkan, Bukan berarti kita tidak boleh minta bantuan kepada orang lain sama sekali.

Kondisi Kita Boleh Meminta Bantuan

1. Itu memang hak kita.

Dan ini dijelaskan oleh para ulama. Contohnya, ada seseorang yang berhak menerima zakat, maka dia boleh menyampaikan kepada pembagi zakat:

“Saya berhak menerima zakat karena (alasan) 1, 2 dan 3.”

2. Seseorang butuh.

Contohnya minta bantuan hutang.
⇒ Tidak jadi masalah.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah imamnya para orang-orang yang zuhud namun, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah juga berhutang, bahkan ketika meninggal masih mempunyai hutang dengan menggadaikan baju perangnya.

3. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk dakwah/amal khairiy/kerjaan sosial.

Maka tidak mengapa dia merendahkan dirinya, bukan untuk kepentingan dirinya tapi karena kepentingan di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kepentingan ummat, agama Allāh.
⇒ Maka ini tidak jadi masalah.

Sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk bersedekah, bukan untuk dirinya, tapi untuk yang lain.

4. Kondisi darurat.

⇒ Tidak mengapa, sebagaimana pernah saya jelaskan.

Tidak mengapa kita minta bantuan terutama kepada teman-teman dekat kita, yang seperti saudara sendiri, karena Allāh menyuruh kita untuk saling tolong menolong.

Tetapi jangan terlalu sering (kebanyakan), karena ini akan merendahkan derajat kita di hadapan manusia.

Tentang Penulis: Firanda Andirja

Gambar Gravatar
Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA., yang lebih dikenal dengan nama Firanda Andirja dengan bernama kuniyah Abu Romli Jamali adalah seorang da'i dan mubalig di Indonesia yang menjadi penceramah tetap di Masjid Nabawi Arab Saudi.