Cara Terbaik Menyambut Bulan Ramadhan

Berkata Ibnu Rajab rahimahullāh:

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ

“Bagaimana seorang mukmin tidak gembira (bahagia) dengan dibukanya pintu-pintu surga?

Dan bagaimana tidak bahagia orang-orang yang tengelam dalam perbuatan dosa, dengan ditutupnya pintu neraka dan juga diberikan ampunan-ampunan kepada mereka?

Dan bagaimana orang yang berakal tidak bahagia, diberikan waktu di mana syaithān-syaithān dibelenggu saat itu? Adakah waktu yang lain seperti waktu ini (Ramadhān)?” (Kitāb Lathā’if Al Ma’ārif hal 148)

⇒ Syaithān-syaithān adalah musuh-musuh manusia

Artinya sahabat sekalian, tidak ada waktu yang lebih baik daripada bulan Ramadhān. Ini kesempatan yang Allāh berikan kepada kita, untuk memanfaatkan waktu Ramadhān tersebut. Kita menggali, mendulang kebaikan demi kebaikan.

Oleh karena itu mereka (para salaf) sangat-sangat berbahagia, sangat senang dengan datangnya bulan Ramadhān.

Lihat bagaimana para salaf tatkala mereka menghadapi bulan Ramadhān!

Berkata Mualla bin Al Fadhl rahimahullāh:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dahulu para salaf senantiasa berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla selama 6 (enam) bulan, agar Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kesempatan kepada mereka agar bertemu dengan bulan Ramadhān.”

Enam bulan mereka berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar mereka bisa mendapatkan bulan Ramadhān dan mereka berdo’a kembali kepada Allāh selama 6 bulan agar puasa mereka diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Inilah sikap para salaf, mereka benar-benar merindukan bulan Ramadhān.

Begitu juga perkataan Yahya ibni Abī Katsīr, beliau mengatakan:

اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبلا

“Yā Allāh, antarkanlah diriku agar bisa menemui Ramadhān dan izinkan Ramadhān agar bisa mendapatiku serta terimalah dariku amal-amalku (di dalam bulan Ramadhān).” (Kitāb Lathā’if Al Ma’ārif hal 148)

Oleh karena itu Ibnu Rajab bin Hambali, beliau mengatakan:

بلوغُ شهر رمضان وصيامُه، نعمة عظيمة على من أقدره الله عليه، ويدل عليه حديث الثلاثة الذين استُشهد اثنان منهم، ثم مات الثالث على فراشه بعدهما، فَرُئِي في النوم سابقا لهما

فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -:”أليس صلى بعدهما كذا وكذا صلاةً، وأدرك رمضان فصامه، فوالذي نفسي بيده، إن بينهما لأبعدَ مما بين السماء والأرض”] صحيح سنن ابن ماجة.

Seseorang sampai kebulan Ramadhān, kemudian dia berpuasa di bulan Ramadhān, ini adalah salah satu nikmat yang sangat besar, kepada orang-orang yang Allāh berikan kemampuan di dalamnya (Allāh taqdirkan dia untuk sampai dibulan Ramadhān).

Dan hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadīts di mana ada tiga orang, yang dua orang mati syahīd yang satu orang dia masih hidup.

Kemudian orang yang ketiga ini, dia meninggal di atas kasurnya setelah yang keduanya.

Maka diperlihatkan di dalam tidurnya bahwasanya yang ketiga itu mendahului dua orang yang mati syahīd.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bersabda:

“Bukankah orang yang ketiga (yang meninggal belakangan) dia shalāt sekian kali shalāt, dan dia mendapatkan bulan Ramadhān kemudian berpuasa di dalamnya. Dan demi jiwaku yang berada ditangan-Nya. Sesungguhnya jarak di antara keduanya (antara orang yang meninggal terakhir dan orang yang mati syahīd) adalah seperti langit dan bumi.” (Hadīts shahīh riwayat Ibnu Mājah)

Kenapa? Karena orang yang meninggal terakhir tadi dia shalāt dan berpuasa di bulan Ramadhān, dia melakukan berbagai macam amalan shālih yang menambah derajatnya sehingga derajatnya jauh melampaui derajat kedua sahabatnya yang meninggal mati syahīd.

Dan shahābat yang ketiga tadi meninggal di atas tidurnya. Walaupun dia meninggal di atas kasurnya namun dia telah melaksanakan amalan-amalan shālih, di antaranya adalah dia mendapatkan bulan Ramadhān kemudian berpuasa di dalamnya.

Ini adalah kenikmatan yang luar biasa, sehingga setiap orang hendaknya dia bersyukur tatkala dia menemukan (mendapatkan) bulan Ramadhān.

Bulan Ramadhān adalah bulan yang wajib kita syukuri karena ini adalah nikmat yang besar.

Oleh karena itu para shahābat sekalian, bersiaplah untuk menyambut bulan ini (Ramadhān) dengan sepenuh hati.

Marilah kita bersiap-siap untuk banyak melakukan amalan shālih dan bersiap-siap untuk meminta ampun kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla di bulan ini (Ramadhān).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 4 =