Cara Terbaik Menyambut Bulan Ramadhan

Seseorang yang terbiasa dengan puasa wajib, dia membiasakan diri, maka diharapkan dia bisa menambah dengan puasa sunnah, karena mereka mendengar sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allāh (baik puasa sunnah maupun wajib) maka Allāh akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari neraka selama 70 tahun.” (Muttafaqun ‘alaiyh, Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2840)

Allāh akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama 70 tahun artinya jarak yang sangat jauh.

Begitu juga mereka (para salaf) menjadikan Ramadhān sebagai madrasah. Madrasah untuk membiasakan diri shalāt malam. Karena shalāt malam adalah salah satu ibadah yang luar biasa, ibadah yang sangat mulia.

Orang yang membiasakan diri shalāt malam, maka Allāh akan menjadikan cahaya pada wajahnya dan menjadikan sebab orang-orang menyukai dirinya, mencintai dirinya.

✎ Sa’id Ibnu Musayyibah rahimahullāh:

قال سعيد بن المسيب رحمه الله : إن الرجل ليصلي بالليل، فيجعل الله في وجهه نورا يحبه عليه كل مسلم، فيراه من لم يره قط فيقول: إني لأحبُ هذا الرجل.

Berkata Sa’id Ibnu Musayyibah rahimahullāh:

“Seseorang yang senantiasa shalāt malam, maka Allāh akan menjadikan cahaya pada wajahnya yang disukai oleh setiap muslim. Maka setiap orang yang melihatnya walaupun dia tidak pernah melihatnya maka dia akan mengatakan, ‘Saya suka orang ini’.”

✎ Imām Al Hasan Al Basri rahimahullāh:

قيل للحسن: ما بال المتهجدين من أحسن الناس وجوها؟ قال: “لأنهم خلوا بالرحمن، فألبسهم من نوره نورا”

Dikatakan kepada Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullāh:

“Mengapa orang yang suka shalāt malam wajahnya paling baik?”

Maka beliaupun berkata:

“Karena mereka selalu bersendirian dengan Ar Rahmān (Allāh Subhānahu wa Ta’āla) di tengah malam gelap gulita, maka Allāh memakaikan di antara cahaya-Nya pada mereka.”

Ini adalah salah satu rahasia kenapa orang yang senantiasa membiasakan diri dengan shalāt malam, Allāh Subhānahu wa Ta’āla jadikan cahaya pada wajahnya.

Para salaf juga menjadikan Ramadhān sebagai madrasah (tempat) untuk membiasakan diri bergaul dengan Al Qur’ān, baik membaca Al Qur’ān, mendengarkan Al Qur’ān, memahami Al Qur’ān dan mentadabburi Al Qur’ān dan mengamalkan Al Qur’ān.

Kita lihat bagaimana Sufyān Ats Tsaurī. Beliau adalah seorang imām hadīts, seorang yang zuhud, wara’, seorang ulamā besar. Apabila masuk bulan Ramadhān beliau meninggalkan seluruh pekerjaannya bahkan beliau meninggalkan pelajaran-pelajaran hadītsnya, beliau konsentrasi bergaul dengan Al Qur’ān (membaca, memahami, mentaddaburi Al-Qur’ān).

Begitu juga Muhammad bin Ismāil Al Bukhāri (Imām Bukhāri), beliau mengkhatamkan Al Qur’ān di bulan Ramadhān setiap hari. Beliau juga berdiri untuk shalāt tarawih dan mengkhatamkan Al Qur’ān di setiap tiga malam dalam shalat tarawihnya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita orang yang beruntung mendapatkan kemulian bulan Ramadhān.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 × 1 =