Cara Terbaik Menyambut Bulan Ramadhan

Para salaf juga menjadikan Ramadhān sebagai madrasah untuk membiasakan diri untuk menghilangkan penyakit-penyakit kebakhilan, membiasakan diri menjadi orang yang penuh dengan kedermawanan.

Di bulan Ramadhān para salaf memperbanyak shadaqāh, memperbanyak infāq, mereka bersegera di dalam kebaikan-kebaikan. Membantu saudara-saudaranya baik yang dikenal maupun tidak dia kenal.

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu
Ta’āla ‘anhu, beliau mengatakan:

كَانَ رسوالله صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وكان أَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhān.

Ketika Jibrīl alayhissallām bertemu dengannya, jibrīl menemuinya setiap malam Ramadhān untuk saling mempelajari Al Qur’ān, sungguh, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dan di dalam riwayat Ahmad ada tambahan:

لَا يُسْأَلُ عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَعْطَاهُ

“(Pada saat bulan Ramadhān) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah di minta segala sesuatu apapun kecuali pasti memberikan.”

✎ Berkata Imām Adz Dzahabi rahimahullāh:

وبلغن أن حمادا بن أبي سليمان كان ذا دنيا متسعة، وأنه كان يفطر في شهر رمضان خمسمائة إنسان ، وأنه كان يعطيهم بعد العيد لكل واحد مائة درهم

“Bahwasanya sampai pada beliau seorang shālih yang bernama Hamād ibni Abī Sulaimān, beliau adalah orang kaya. Dibukakan dunia untuk dia dan beliau senantiasa memberikan makan 500 orang yang berbuka di bulan Ramadhān. Dan beliau senantiasa memberi pada hari ‘Ied hari di mana kaum muslimin berbahagia setiap orang diberi 100 Dirham.”

✎ Imām Hasan Al Basri rahimahullāh:

يقول الحسن :-
إن الله جعل شهر رمضان مضمارا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته فسبق قوم ففازوا وتخلف آخرون فخابوا فالعجب من اللاعب الضاحك فى اليوم الذى يفوز فيه المحسنون ويخسر فيه المبطلون

Berkata Imām Hasan Al Basri rahimahullāh:

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan Ramadhān sebagai tambang bagi hamba-hambanya. Dimana pada bulan tersebut orang-orang berlomba-lomba dengan ketaatan mengharapkan keridhāan Allāh.

Maka ada sekelompok kaum yang mereka berlomba dan memenangkan perlombaan tersebut dan sekelompok kaum yang dia tertinggal dibelakang dan dia rugi.

Maka sangat mengherankan bagi orang-orang yang senantiasa bermain-main, tertawa-tawa di bulan Ramadhān, di mana pada bulan tersebut orang-orang yang berbuat baik, taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla mereka memenangkan perlombaan ini. Dan juga orang-orang yang dia tidak berbuat ketaatan senantiasa berbuat kesia-siaan, dia merugi.”

Oleh karena itu, begitulah keadaan para salaf, sekelumit kecil kehidupan para salaf di bulan Ramadhān. Mereka menjadikan bulan Ramadhān sebagai tambang untuk bisa menambang emas dan perak, menambang pahala untuk dipersembahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar mendapatkan keridhāan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu hendaklah kita berusaha berbuat seperti mereka, berlomba-lomba di dalam kebaikan menyambut Ramadhān, melaksanakan amal-amal ibadah dengan sebaik mungkin di bulan Ramadhān.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampuni dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita orang yang beruntung mendapatkan kemulian bulan Ramadhān.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 9 = 36