Hukum dan Tata Cara Membayar Zakat Pertanian

Ceramah.org – Kita masih membahas hal yang terkait dengan zakat dan kita masuk pembahasan tentang zakat: الزروع والثمار yaitu zakat pertanian, zakat buah-buahan dan biji-bijian.

Di sini, seseorang wajib menunaikan zakat pertanian apabila dia memilikinya, berdasarkan dalil dari Al Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Dalil Wajibnya Zakat Pertanian

Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(1) Dalam surat Al An’am ayat 141:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Dan tunaikanlah haknya (zakat) pada hari memetik hasilnya (pada saat panennya).”

(2) Dalam surat Al Baqarah ayat 267:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

“Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kalian (yaitu) tunaikanlah zakat kalian dari sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

⇒ Az zuru’ wa tsimar (الزروع والثمار) termasuk dari perkara-perkara yang masuk di dalam: مِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ.

Lebih spesifik, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan:

فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Pada tanaman yang diairi dengan air hujan, mata air, atau air tanah maka zakatnya sepersepuluh, adapun yang diairi dengan menggunakan tenaga maka zakatnya seperduapuluh.” (Hadits riwayat Bukhari nomor 1388, versi Fathul Bari nomor 1483)

⇒ Tanaman atau tumbuhan yang diairi oleh air hujan (air langit) maka zakatnya adalah sepersepuluh atau 10 % dan tanaman yang disirami dengan ember-ember atau dengan usaha manusia maka zakatnya adalah 5%.

⇒ Ini menunjukkan wajibnya seseorang menunaikan zakat, yang terkait dengan: الزروع والثمار.

Kemudian berkata penulis rahimahullah:

((ونصاب الزروع والثمار خمسة أوسق))

“Dan nishab dari الزروع والثمار pertanian, buah-buahan dan biji-bijian adalah: خمسة أوسق (lima wasaq).”

⇒ Wasaq adalah ukuran volume yang mana volume ini standarnya kepada shā Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Satu wasaq adalah kira-kira 60 sha.
√ Satu sha yang digunakan pada zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kira-kira 3.28 liter.

Jadi ukurannya adalah volume bukan ukuran timbangan, karena secara timbangan walaupun volumenya sama, apabila berbeda buahnya atau berbeda jenisnya (misalnya) antara beras dan tepung pasti berbeda beratnya.

Maka yang digunakan standar di dalam zakat nishabnya adalah 5 (lima) wasaq atau sekitar 300 sha atau sekitar kurang lebih 984 liter hampir 1000 liter.

Apabila kurang dari itu tidak wajib untuk dizakati berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

ولَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُق من تمر ولا حب صدقة

“Tamr (kurma) maupun biji-bijian (kismis dan lain sebagainya) apabila kurang dari 5 (lima) wasaq maka tidak ada sedekahnya (zakatnya).” (Hadīts riwayat Ibnu Hibbān dalam Shahīhnya)

وما زدا فبحسبه

“Apabila lebih dari 5 (lima) wasaq maka akan mengikuti perhitungan dari zakāt tersebut.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 × = 35