4 Tingkatan Sikap Manusia Ketika Sakit, Anda di Tingkat yang Mana?

Ceramah.org – Saudaraku, semoga Allah menyembuhkanmu, Orang yang sakit mengalami beberapa kondisi, yaitu : Kondisi ketika sakit; Kondisi ketika dalam masa pengobatan; dan Kondisi setelah masa pengobatan atau ketika berada dalam masa penyembuhan.

Kami memohon kepada Allah agar menganugerahkan kesembuhan dan keselamatan kepadamu.

Kita akan membahas kondisi pertama, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami sakit, maka hendaknya dia meyakini bahwa musibah tersebut telah ditetapkan atas dirinya sebagaimana firman Allah ta’ala,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ۝٢٢

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Karena setiap musibah yang menimpa seseorang telah ditakdirkan Allah, maka tidak boleh setiap muslim marah terhadap apa yang ditakdirkan Allah pada dirinya.

Jawaban terperinci dari al-‘Allamah, al-Faqih, asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin rahimahullah, ketika beliau ditanya tentang seorang yang marah ketika musibah menimpanya. Beliau menjawab, “Manusia terbagi ke dalam empat derajat ketika ditimpa musibah, yaitu:

1. Marah atas musibah yang menimpanya

Marah atas musibah yang menimpanya. Hal ini terbagi ke dalam beberapa
bentuk, yaitu:

Pertama, Marah yang tersimpan di dalam hati atas musibah yang menimpanya, sehingga dia membenci Rabb-nya, marah atas apa yang ditakdirkan Allah bagi dirinya. Hal ini haram dan bahkan terkadang bisa membuat seseorang kafir. Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍۢ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ ۝١١

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Kedua, kemarahan diungkapkan melalui lisan seperti mendo’akan keburukan, mencaci-maki, dan yang semisal.

Ketiga, kemarahan diungkapkan melalui anggota badan seperti menampar
pipi, merobek pakaian, memotong rambut dan tindakan semisal.

Ketiga hal di atas diharamkan dan menghilangkan ditunaikan sifat sabar yang wajib ditunaikan.

2. Bersabar atas Penyakit

Hal ini seperti yang disampaikan penyair:

Sabar itu seperti namanya, pahit terasa…
Namun, lebih manis dari madu hasilnya

Dia merasakan musibah ini berat namun dia berusaha menahannya. Dia tidak suka musibah ini terjadi, akan tetapi keimanan menjaga dirinya sehingga tidak marah. Pada kategori ini, dalam pandangan orang tersebut terjadinya musibah atau tidak, tidaklah sama. Namun dia tetap sabar karena hal inilah yang diwajibkan Allah ta’ala. Allah berfirman,

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ۝٤٦

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

3. Ridha dengan Kondisi Sakit

yaitu seseorang ridha atas musibah yang menimpanya. Dalam pandangannya sama saja baik musibah itu terjadi atau tidak. Jika terjadi, hal itu tidak menyedihkan dan membebaninya. Derajat ini hukumnya mustahab (sunnah) dan tidaklak wajib berdasarkan pendapat yang kuat. Perbedaan derajat ini dengan derajat sebelumnya nampak nyata, karena seorang yang berada pada derajat ini terjadinya musibah dan tidak tidak berpengaruh. Berbeda dengan seorang yang berada pada derajat sebelumnya, musibah terasa berat dan sulit bagi dirinya, namun dia bersabar.

4. Mensyukuri Kondisi Sakit

Derajat ini yang tertinggi, di mana seseorang bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya, karena dia mengetahui bahwa musibah tersebut merupakan sebab yang akan menghapuskan dosanya dan dapat menambah pundi-pundi kebaikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan dengan penyakit itu, Allah akan mengugurkan dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.”

HR. al-Bukhari: 5661 dan Muslim: 6504. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 2/110; Syarh Riyadh ashShalihin 1/121-122; asy-Syarh al-Mumti’ 5/495; dan Fatawa Arkan al-Islam hlm. 150-151)

Setelah penjelasan yang memuaskan dari Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahullah ini, hendaknya setiap orang yang ditimpa musibah berprasangka baik kepada Allah ta’ala di segala kondisi, khususnya di kala sakit. Dan ingatlah selalu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya. Juga, Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsiy,

“Aku menuruti prasangka hamba kepada-Ku, maka silahkan berprasangka sesuai apa yang dikehendaki. Jika prasangkanya baik kepada-Ku, hasilnya akan membuahkan kebaikan. Jika prasangkanya buruk, hasilnya akan membuahkan keburukan.”.

HR. Ahmad: 8715; ath-Thabrani: 7951 dalam al-Ausath; Ibnu Hibban: 639. Lihat as-Silsilah ash-Shahihah 4/224

Berbaik sangkalah pada Allah ta’ala bahwa Dia akan menyembuhkan dirimu dari penyakit yang engkau derita. Engkau wajib memperbanyak dan bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya dalam do’amu. Karena apabila seorang hamba mengiba kepada-Nya dalam do’a serta Allah mengetahui kadar kejujuran dan keihlasan dirinya dalam meminta, niscaya Allah akan memudahkan urusan hamba tersebut. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya pengobatan seluruh penyakit dengan memanjatkan do’a dan meminta pertolongan kepada Allah lebih manjur dan bermanfaat daripada pengobatan dengan obatobatan. Pengaruhnya terhadap tubuh, demikian pula respon tubuh terhadapnya, lebih besar dari obat-obatan fisik. Akan tetapi, hal itu baru manjur dengan memenuhi dua hal, yaitu niat yang benar dari pasien dan kuatnya kebergantungan hati dengan takwa dan tawakkal kepada Allah dari sisi dokter/terapis.”

Fath Al-Bari 10/115

Hal ini bukan berarti bahwa obat-obatan itu tidak diperlukan. Akan tetapi, maksud beliau adalah pengaruh do’a dan memohon pertolongan pada Allah dengan penuh kejujuran dan keikhlasan lebih mempengaruhi kondisi jiwa daripada obat-obatan dan yang semisal.

Pujilah Allah. Setiap kita pasti mampu berdo’a, karena itu kenapa kita tidak mengupayakan kenikmatan bisa berdo’a yang teramat mudah untuk dilakukan dan akan menghasilkan balasan kebaikan yang begitu melimpah? Di sini saya akan menyampaikan do’a nabawi, yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya ketika mengalami sakit.

Dari ‘Utsman bin Abi al-’Ash radhiallahu ‘anhu, dia mengadu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal sakit yang beliau alami.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir dan Harmalah bin Yahyakeduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari ‘Utsman bin Abu Al ‘Ash Ats Tsaqafi bahwa dia mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu penyakit yang dideritanya sejak ia masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Letakkan tanganmu di tubuhmu yang terasa sakit, kemudian ucapkan Bismillah tiga kali, sesudah itu baca tujuh kali: A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru.” (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan). (HR. Muslim: 5701 dan Ibnu Majah: 3522)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 7 =