Jangan Mengharapkan Anak yang Shaleh kalau Orang Tua tidak Mampu jadi Contoh!

Ceramah.org – Pada pertemuan kali ini, kita akan membawakan pembahasan penulis yaitu Pengaruh baik keshalihan kedua orang tua dan amalan shalih mereka terhadap pendidikan anak-anak.

Keshalihan orang tua dan amal shalih mereka berdua memiliki dampak (pengaruh) yang sangat besar terhadap keshalihan anak-anak dan sangat berpengaruh terhadap manfaat kehidupan anak-anak kelak di dunia ketika mereka dewasa bahkan ketika mereka sudah meninggal di akhirat kelak (in sya Allah).

Sebaliknya, Amalan-amalan buruk orang tua (dosa-dosa orang tua atau maksiat yang dilakukan orang tua) memiliki dampak yang sangat buruk (negatif) terhadap pendidikan anak.

Dan tentunya dampak ini muncul (baik dampak positif) akibat dari perbuatan shalih kedua orang tua akan membuat anak menjadi shalih juga, sebaliknya dampak negatif (akibat maksiat orang tua) berdampak buruk pula pada anak.

Ini bisa kita lihat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai dan memberkahi amal-amal shalih dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas amal shalih dengan balasan yang baik sebagaimana amalan-amalan buruk (maksiat) Allah tidak menyukainya dan Allah akan membalasnya dengan balasan yang buruk juga.

Oleh karena itu jelas dampak atau pengaruh perbuatan orang tua jika itu baik maka akan berakibat baik untuk anak-anaknya. Jika perbuatan orang tua buruk (selalu bermaksiat) maka akan berpengaruh buruk terhadap anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua perbanyaklah amal-amal shalih, maka in sya Allah dampak positifnya akan dirasakan, akan Allāh berikan kepada anak-anak kita.

Dampak positif bagi anak-anak yang in syā Allāh orang tuanya shalih bisa berupa (misalnya); Allah Subhānahu wa Ta’ala akan menjaganya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjamin rejeki anak-anak tersebut dimasa depannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat mereka senantiasa sehat wal’afiat.

Begitu pun dampak negatif akibat berbuatan orang tua yang suka bermaksiat bisa dirasakan oleh anak-anak mereka (misalnya); Anak menjadi anak yang durhaka, Rejeki anak tersebut susah, Banyak musibah yang akan menimpa anak-anaknya, Banyak penyakit yang akan diderita oleh anak-anaknya.

Oleh karena itu wahai orang tua, wahai ayah, wahai ibu, Perbanyaklah beramal shalih, in sya Allah akan kita rasakan jika kita selaku orang tua beramal shalih, maka dampak positifnya akan kita rasakan.

Dan ini bisa kita lihat dalilnya di dalam surat Al Kahfi ayat 82. Allah Subhānahu wa Ta’ala berfirman

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” (QS Al Kahfi: 82)

⇒ Yang perlu digaris bawahi وَكَانَ أَبُوهُمَا bahwanya kedua orang tua mereka adalah orang tua yang shalih.

Dan ini merupakan kisah antara nabi Musa dan nabi Khidir ‘alayhumassallam (kisahnya bisa dilihat dalam surat Al Kahfi mulai kurang lebih ayat ke-70 sampai ayat ke-82) di situ di antara percakapan antara nabi Musa dan nabi Khidir ‘alayhumassallam.

Mereka berdua melewati satu perkampungan (negeri) lalu mereka berdua meminta kepada penduduk daerah tersebut jamuan sebagaimana layaknya seorang tamu kepada penduduk negeri tersebut, akan tetapi mereka menolaknya.

Kemudian mereka berdua berjalan dan mereka mendapati dikampung (negeri) tersebut rumah yang hampir roboh temboknya kemudian nabi Khidir ‘alayhissallam menegakkan kembali rumah tersebut

Kemudian nabi Musa alayhissallam bertanya, “Untuk apa engkau memperbaiki (menegakkan) rumah yang sudah hampir roboh ini ?”

Lalu nabi Khidir menjawab:

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu”

Maka perhatikanlah, Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga harta anak yatim dan perbendaharaan harta mereka dengan sebab keshalehan kedua orang tua mereka (padahal rumah tersebut sudah hancur akan tetapi harta mereka tetap tersimpan).

Sehingga tidak mungkin kita berprasangka atau mengira bahwasanya bapak mereka orang yang tukang maksiat, karena Allah menjaga harta dari orang yang shalih (orang yang baik) sehingga dampak positif dari keshalihan orang tua baik bapak atau ibu dirasakan oleh anak-anak mereka.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala terus jaga hartanya sampai anak tersebut dewasa dan menemukan kembali peninggalan harta orang tuanya.

Ini dalil yang sangat jelas bahwa keshalihan orang tua berdampak positif terhadap anak-anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

77 − = 70