Ketika Al-Qur’an dan Sunnah Berbicara Inflasi & Kenaikan Harga

Ceramah.org – Berikut ini adalah sejumlah opini yang terbetik dalam pandangan kami dalam perbincangan seputar kenaikan harga yang terjadi akhir-akhir ini. Membicarakan permasalahan harga barang/jasa dan kenaikannya tidaklah tercela, karena hal itu merupakan isu pokok yang terkait dengan sumber pencaharian dan kehidupan manusia.

Hal itu kemudian menjadi tercela ketika diperbincangkan melebihi porsi yang seharusnya. Dan ketika nilai-nilai al-Quran dan as-Sunnah terkait kejadian tersebut tidak lagi mampu disadari, maka berbagai hal berikut adalah faktor yang dapat menambah keyakinan dan sikap ridha pada diri orang yang beriman.

1. Ujian Bagi orang Beriman

Tingginya harga barang/jasa merupakan salah satu ujian dan seorang yang beriman menyikapinya dengan bersabar dan berusaha mencari solusi yang sejalan dengan ketentuan agama ketika ujian terjadi.

Orang yang dahulu terbiasa membelanjakan harta untuk keperluan yang tidak bersifat pokok, maka saat ini merupakan momen untuk mengontrol pengeluaran. Dan juga merupakan momen untuk merenungkan kondisi sejumlah orang yang ditimpa ujian kemiskinan setelah dahulu hidup berkelapangan. Kedua Hayati nilai qurani yang agung dalam bab rezeki. Allah ta’ala berfirman,

Orang yang dahulu terbiasa membelanjakan harta untuk keperluan yang tidak bersifat pokok, maka saat ini merupakan momen untuk mengontrol pengeluaran. Dan juga merupakan momen untuk merenungkan kondisi sejumlah orang yang ditimpa ujian kemiskinan setelah dahulu hidup berkelapangan.

2. Al-Qur’an Bab rezeki [Asy-Syura: 27]

Allah ta’ala berfirman,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”

[asy-Syura: 27].

Al-‘Allamah as-Si’diy rahimahullah mengatakan,

“Maksudnya dengan kelapangan rezeki mereka akan lalai dalam menaati Allah dan cenderung bersenang-senang dengan syahwat duniawi, sehingga mereka akan senantiasa menuruti apa yang diinginkan oleh hawa nafsu meskipun hal itu berupa kemaksiatan dan kezaliman. Karena itu Allah berfirman (yang artinya), ‘tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran’, yaitu sesuai dengan tuntutan kelembutan dan hikmah-Nya, karena ‘sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat’.

Hal ini sejalan dengan firman-Nya yang tercantum dalam sejumlah atsar, di mana Allah berfirman (yang artinya), ‘Sesungguhnya di antara hambaKu terdapat seorang yang keimanannya baik ketika berada dalam kondisi kaya, seandainya Aku memiskinkannya, niscaya hal itu akan merusaknya. Dan di antara hamba-Ku terdapat seorang yang keimanannya baik ketika berada dalam kondisi miskin, seandainya Aku mengayakannya, niscaya hal itu akan merusaknya’”

3. Kunci Rezeki adalah Ibadah & Bersyukur

“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.” [al-Ankabut: 17]. Dalam ayat di atas, beliau membimbing mereka dan menginformasikan bahwa kunci-kunci rezeki adalah dengan beribadah dan bersyukur kepada-Nya.

4. Nilai qurani Al-Isra: 30

Sesungguhnya Rabb-mu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hambahamba-Nya.” [al-Isra: 30].

5. Kesulitan tidak ada terjadi terus menerus

Telah menjadi sunnatullah bahwa kesulitan yang dialami tidak akan berlangsung terus-menerus. Perhatikan ta’bir mimpi sang Raja yang dikemukakan nabi Yusuf ‘alaihi as-salam. Beliau menafsirkan mimpi itu dengan mengatakan bahwa kelak akan terjadi masa sulit selama tujuh tahun, yang sebelumnya rakyat hidup dalam kondisi lapang selama tujuh tahun. Setelah itu Yusuf ‘alaihi as-salam berkata, “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” [Yusuf: 49].

Meski mimpi sang Raja tidak mencakup tahun kelima belas, namun kemudahan yang datang di saat itu dapat dipahami karena sudah menjadi sunnatullah bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan. Firman Allah di surat asy-Syura ayat 27 diiringi dengan firman Allah setelahnya yang berbunyi,

“Dan Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dia-lah yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” [asy-Syura: 28]. Maka bagaimana bisa anda berputus asa, padahal Allah telah berfirman (yang artinya) “dan Allah menyebarkan rahmat-Nya”? Apakah kata “menyebarkan” tidak berpengaruh pada dirimu?

Bagaimana bisa anda berputus asa padahal dia mengenalkan diri-Nya bahwa Dia adalah al-Waliy al-Hamid, Dzat yang Mahapelindung lagi Mahaterpuji? Ayat ini dikomentari oleh al-‘Allamah as-Sidiy rahimahullah dalam tafsirnya dengan berkata,

“Dia adalah al-Waliy, Dzat yang memelihara segenap hamba-Nya dengan berbagai bentuk pemeliharaan; mengurus mereka dengan memberikan berbagai kemanfaatan pada agama dan dunia mereka. Dia juga adalah al-Hamid, Dzat yang Mahaterpuji dalam pemeliharaan dan pengaturan alam semesta. Dia Mahaterpuji atas kesempurnaan-Nya dan berbagai bentuk kebajikan yang diberikan kepada hamba-Nya”

6. Instropeksi Diri

Ingatlah bahwa sebab-sebab yang mendatangkan rezeki tidak terbatas pada sebab kongkrit yang kasat mata seperti gaji bulanan atau faktor tertentu. Namun, terdapat sebab lainnya yang sejalan dengan ketentuan agama dan memiliki pengaruh besar untuk mendatangkan rezeki, di antara hal tersebut adalah tawakkal, shalat, dan silaturahim. Karena itu, Pertebal tawakkalmu kepada Allah! Renungkan kondisimu sembari melaksanakan shalat! Introspeksi hubungan kekerabatanmu!

7. Iman dan Taqwa Penduduk Suatu Negeri [Al-A’raf: 96]

Inilah nilai qurani yang sejalan dengan ketentuan agama dan termaktub dalam banyak tempat dalam al-Quran, yang mengisyaratkan jalan untuk mengobati dan memperoleh keberkahan, Allah ta’ala berfirman,

“Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan kami limpahkan kepada mereka barakah di langit dan di bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [al-A’raf: 96].

8. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أيها الناس اتقوا هللا و أجملوا في الطلب فإن نفسا لن تموت حتى تستوفي رزقها و إن أبطأ عنها فاتقوا هللا و أجملوا في الطلب خذوا ما حل و دعوا ما حرم

“Wahai manusia bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Sesungguhnya seorang itu tidak akan mati sehingga lengkap jatah rezekinya. Jika rezeki itu terasa lambat datangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan carilah dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram. [Shahih. HR. al-Baihaqi]

Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan harga pada kaum muslimin, memperbaiki dan mengembalikan kondisi mereka menjadi lebih baik.

Oleh : Prof. Dr. Umar al-Muqbil hafizhahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 × = 48