Hukum Zakat untuk Gharim dan Sabilillah (Radio Dakwah)

Tanya JawabKatagori: FikihHukum Zakat untuk Gharim dan Sabilillah (Radio Dakwah)
Zulkifli asked 2 tahun ago

Aslm Ustadz,

⑴ Apakah boleh membayar zakat ke ikhwan kita yang mempunyai hutang?

⑵ Bolehkah zakat itu, untuk membayar bantuan operasional radio ** (misalnya) /sarana dakwah?

Terima kasih

Zulkifli – Cileungsi

1 Answers
Erwandi Tarmizi Staff answered 2 tahun ago

وعليكـمــ اﻟسّلامــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ
Pertanyaan pertama:

Bolehkah kita menyalurkan zakat kepada orang yang berhutang untuk kebutuhan pokoknya?

⇨ Al Gharimin yang berhak menerima zakat adalah yang statusnya sebagai orang yang berhutang, untuk:

  • Suatu hal yang mubah, bukan untuk hal yang haram.
  • Berhutang untuk hajjah (ada kebutuhan) nya.

Kalau tidak terpenuhi salah satu dari 2 hal ini maka tidak boleh dia menerima zakat untuk membayar hutangnya. Contoh, dia berhutang umpamanya untuk beli mobil mewah padahal:

  • Bagi dia cukup kendaraan motor karena dia hanya berdua dengan istrinya saja.
  • Dan bisa bawa motor.
  • Dan memang tidak membutuhkan mobil.

MAKA, tidak boleh diberikan zakat untuk dia, karena ini lebih dari hajjah (kebutuhannya).

Akan tetapi jika kondisinya punya istri dengan 5 anak. Tidak mungkin naik motor dengan 7 orang kan? Berarti dia butuh mobil, butuh transportasi untuk itu.

Berhutang untuk mobil dan sebatas kemampuannya. Yaitu seharga mobil minimal yang bisa digunakan oleh dia. Maka berhutang seperti adalah mubah.

Apabila lebih dari kebutuhannya, misalnya mobil yg dibeli adalah mobil mewah, maka hal ini TIDAK mubah. Bahkan termasuk ishraf (berlebih-lebihan). Maka tidak boleh dibayarkan (salurkan) zakat kepada dia.

Bila terpenuhi persyaratan ini:

  • Dia berhutang untuk sesuatu yang mubah.
  • Dan sesuai dengan kebutuhan dia.
  • Dan dia tidak memiliki asset yang lain.

Maka boleh dibayarkan zakat padanya.

Sedangkan kepada yang memiliki aset, seperti tadi, di kampungnya ada tanah 5 hektar, maka dia memang berhutang tapi bisa dia jual sebagian petak tanahnya tadi, mungkin dengan 100 meter tanahnya bisa menutupi hutangnya ini dan masih ada sisanya lebih banyak lagi assetnya, maka dengan demikian TIDAK boleh dibayarkan juga hutang dia. Walaupun hutangnya untuk kebutuhan pokoknya.

Pertanyaan kedua:

  • Zakat untuk sarana dakwah dibolehkan kah atau tidak?
  • Atau masuk Asnaf yang mana?

Sebagian para ulama menafsirkan fīsabilillāh dengan lebih umum, yaitu setiap shubulul khoiryr (jalan jalan kebaikan). Apapun jalan kebaikan ini dibolehkan. Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh MUI pusat.

Tapi berikut ini pendapat menurut saya, Wallāhu Ta’āla a’lam, marjuh (tidak kuat sekali).

Di antaranya berdasarkan dalil bahwa Allāh jelaskan satu persatu, 8 asnaf:

√ Fakir
√ Miskin
√ Orang yang berhutang
√ Amil

Bukankah semua itu adalah jalan kebaikan? Tapi sekarang kita terjemahkan jalan kebaikannya adalah seluruh jalan kebaikan.

Kalau begitu, buang-buang kata-kata Allāh (yang menyebutkan 8 ashnaf) dan menjadikan satu (yaitu jalan kebaikan) dan akan menutup seluruhnya.

Tentulah makna fīsabilillāh di sini menyempit, yaitu dengan makna muqathil mujahidin (orang yang berperang dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Para khibar ulama lembaga ulama besar kerajaan Saudi Arabia meluaskan makna fīsabilillāh ini. Tapi tidak terlalu luas juga.

Yaitu dengan mengqiyaskan bahwasanya jihad fīsabilillāh sebagaimana Islam sebarkan yaitu dengan saifu wa sinna (senjata dengan jihad dan ilmu dengan dakwah).

Sehingga untuk sarana ilmu dan sarana dakwah dibolehkan untuk dibayarkan (menerima) zakat. Akan tetapi, karena ini hukumnya dari qiyas maka jangan menjadi prioritas. Yang tsabit dengan nash, seperti fakir miskin, harus lebih dipentingkan.

Kalau untuk sarana dakwah, berapapun zakat anda akan habis. Maka prioritaskan dulu yang fakir miskin. Dalam banyak hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan;

“Diambil dari yang kaya diberikan kepada fakir miskin.”

Seolah-olah yang menerima zakat itu hanyalah fakir miskin saja. Maka buatlah skala prioritas bila anda adalah sebuah lembaga Amil, misal:

  • Tertutupinya hajjah fakir miskin, karena ini hajjah daruriyah sekali,
  • Baru kemudian untuk sarana-sarana lainnya,

Sampaikanlah pada sarana dakwah tadi, hendaklah lembaga atau instansi dakwah tersebut dalam hal ini agar bijak. Bila memang operasional mereka telah tertutupi sebaiknya jangan lagi terima dari zakat ini. Bila belum tertutupi operasional maka halal bagi mereka untuk menerimanya.

Wabillahi taufik.