Memberikan Modal Untuk Usaha Kredit Adik Sendiri

oleh
Tanya JawabKatagori: MuamalahMemberikan Modal Untuk Usaha Kredit Adik Sendiri
Gambar GravatarNurul asked 2 tahun ago

Aslm Ustadz, saya mau bertanya. Adik saya mau meminjam uang 10 juta untuk modal kreditan barang, dan dia menjanjikan bagi hasil, kemudian modalnya akan dikembalikan nanti pada saat hari raya, berikut keuntungannya. mohon petunjuknya ustadz?

Terima kasih,
Nurul – Cimahi

1 Answers
Best Answer
Gambar GravatarErwandi Tarmizi Staff answered 2 tahun ago

Wa’alikumussalam,
Adik minjam modal 10 juta untuk usaha jual beli yang dia lakukan dengan cara tidak tunai, kemudian nanti setelah hari raya modal dikembalikan akan dibagi hasil.

wallahu ta’ala a’lam kalau dari kata-katanya, dari kata-kata yang digunakan oleh Ibu Nurul ini, ini kata-kata yang mengandung hal yang tidak baik, mengandung hal riba, karena dia mengatakan adik saya meminjam 10 juta, nanti akan bertambah laba, berarti ini  (masuk kaidah riba, -pent)
 
 كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا
(Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba)

Jadi kalau dikatakannya adik saya butuh modal, lalu saya berikan modal  “syirkatul modal mudharabah”  dia mengelola, saya modal saja, ini “mudharabah”.

Kecuali kalau adik tadi punya modal jual disatukan itu “syirkah”.

Kesalahan kata ini sering terjadi “pinjam modal”
terbiasa kita dengan riba, terbiasa kita dengan lembaga konvensional bahwa setiap modal itu namanya “pinjaman kredit” (kredit).

Dalam islam tidak, karena konsekuensi dari akad ini berbeda.
kalau konsekuensi dari pinjaman, kerugian ditanggung 100% oleh anda yang meminjam, kemudian saya mendapatkan sebagian laba, labanya memang tidak tetap, bisa besar bisa kecil, berarti riba nya tidak tetap, bisa besar bisa kecil, tapi saya selamat dari kerugian, ini “qardh jar” namanya (pemanfaatan), bila dikatakan dengan menggunakan kata “qardh” atau pinjaman.

Tapi kalau dikatakan saya memberikan modal atau menyertakan modal, berarti sudah ada modal, berarti tidak ada jaminan kepada modal saya ini.

Andai umpamanya saat lebaran nanti la qoddarallah terjadi kerugian habis, modal saya habis sudah, 10 juta jadi 0 jadi 0.

Andai umpamanya diakhir tahun atau diakhir lebaran tadi, setelah lebaran tadi umpamanya dari 10 juta, Alhamdulillah berkembang menjadi 20 juta uang tunai, ditambah barang senilai 5 juta, aset 5 juta umpamanya.
kalau bentuk seperti ini, ini betul betul adalah “mudharabah atau musyarokah yang halal” siap untung siap rugi, tergantung Ibu Nurul nya anda memberikan uang ini, dan akadnya apa? siap rugi atau tidak?

Kalau anda mengatakannya saya daripada nyimpan dilembaga keuangan mending bantu adik, berarti anda tidak siap rugi kan?
kalau dilembaga keuangan kan terjamin, walaupun lembaga itu tidak menjamin, tetapi lembaga penjamin simpanan ada.

Anda mengatakan daripada, tetapi tetap saya ingin butuh uang itu pada saat itu tidak ingin berkurang.
pinjamkan saja kepada adik, adik ini pinjam pakai, walaupun ini untuk bisnis dia untung.
dapat dia untung dengan 25 juta jadinya, dapat15 juta semuanya buat dia halal (buat dia halal).

Kalau dia berikan sebagian kepada anda, tanpa anda perjanjian diawalnya tidak ada masalah juga, sebagai hadiah, tapi tidak diisyaratkan dari awal, dan pun bukan diberikan diawal, setelah akadnya pinjam meminjam selesai.

Lalu anda katakan saya dapat apa? anda dapat pahala membantu adik anda, membantu adik anda dengan usahanya, pahala dari Allah subhanallahu wa ta’ala meminjamkan 2x. kembali uang anda tetap, sama dengan menghadiahkan bersedekah dengan 1x.

Keuntungan bagi anda apa? uang anda terjamin, anda memang tidak dapat untung materi, tetapi uang anda terjamin.
kemudian anda dapat pahala, pahala sama dengan sedekah 5 juta anda itu, kepada adik sendiri, padahal uang anda kembali 10 juta.
Kalau anda ingin juga keuntungan, katakan kepada adik, ini bukan pinjaman, ini modal saya berikan kau pakai sekarang, bila tadi umpamanya akadnya adalah pinjaman.
ini akadnya adalah penyertaan modal, modal saya berikan, silahkan kamu kelola.

Saya menjual beli kredit kata dia, silahkan tidak ada masalah, tapi lihat orang-orang nya cek dulu, pelajari dulu orangnya, apakah orangnya suka menunda hutang atau tidak.
kemudian dia membeli barang itu hanya sebagai gaya hidupnya saja atau memang kebutuhan.
ada orang yang memang sebagian gaya hidupnya itu hutang, ada yang sebagian memang kalau tidak butuh sekali dia tidak akan ngutang.
kalau untuk orang yang sangat membutuhkan ini, maka kamu jual ke dia.
kalau yang gaya hidupnya seperti itu jangan, karena membantu dia juga hidup dengan “israf” (berlebih-lebihan).

Katakan kepada adik, kerugian karena kamu tidak ada modal disini, modal milik saya saya yang nanggung, dia rugi usaha mengelola 1 tahun tidak dapat untung apapun juga.
dengan syarat dia tidak ambil gaji perbulannya (dengan tidak mengambil gaji perbulan) bila ngambil dia gaji perbulan maka tidak boleh.

Dimasukkan lagi digabungkan lagi kedalam modal, sehingga ditutupi dulu modal baru dibagi keuntungan.
pilihlah dari tim 2 ini yang sesuai dengan kebutuhan dan check recordnya, kalau anda kira tidak percaya, lebih baik umpamanya saya sarankan akhul islam untuk mudharabah.

Jadi bila adik ini baru pengalaman pertama, atau anda khawatir, atau uang anda sangat membutuhkan pada waktunya. maka dibuat dengan akad qardh, tetapi anda tidak mensyaratkan pembagian laba diakhirnya nanti.

Wa billahi taufiq.